Otomotif

IMI Usul Teknologi Pengereman ABS Jadi Fitur Wajib yang Harus Dipasang Produsen Sepeda Motor

Menurut riset yang dikeluarkan oleh Universitas Indonesia jenis kecelakaan terbanyak sepeda motor di Indonesia didominasi tabrakan belakang dan depan dengan persentase 32 persen dan 22 persen sepanjang tahun 2014 2016. Penelitian tersebut juga menemukan terdapat 58 jenis kecelakaan sepeda motor di Indonesia dan dari jumlah itu 26 jenis diantaranya dapat terhindari jika sepeda motor dilengkapi fitur ABS (anti lock braking system). Kepala Pusat Kebijakan Keselamatan dan Keamanan Transportasi Badan Kebijakan Transportasi, Jumardi, S.T., M.T menyampaikan, soal teknologi dalam kendaraan bermotor untuk didorong sebagai kebijakan publik perlu diikuti dengan unsur kebermanfaatan bagi semua pihak.

Hal ini juga sejalan dengan amanah Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2022 tentang Rencana Umum Nasional Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (RUNK LLAJ) untuk meningkatkan transportasi khususnya di jalan raya dengan pembenahan kebijakan. "Target kedepannya semua kendaraan memenuhi fitur keselamatan berstandar internasional namun tetap mempertimbangkan kemampuan dari masyarakat,” ujarnya di acara Focus Group Discussion bertema “Safer Riding with Advance Braking Technology" yang diselenggarakan Otomotif Group, bagian dari Grid Network Kompas Gramedia di Jakarta, baru baru ini. Dalam paparannya, Badan Kebijakan Transportasi mencatat kecelakaan lalu lintas angkutan jalan di Indonesia mengakibatkan sekitar 50 persen korban meninggal merupakan pengguna jalan yang rentan dimana salah satunya adalah pengendara sepeda motor.

Selain bertujuan untuk mencapai kesepakatan bersama, rangkaian diskusi ini juga diikuti sesi demonstrasi sepeda motor yang telah menggunakan teknologi pengereman ABS. Pengendara dapat mencoba secara langsung perbedaan bagaimana sepeda motor non ABS dan ber ABS bermanuver saat harus melakukan pengereman tiba tiba di kondisi jalanan yang licin maupun tidak rata. IMI Usul Teknologi Pengereman ABS Jadi Fitur Wajib yang Harus Dipasang Produsen Sepeda Motor

Fitur ABS di Sepeda Motor, Seberapa Signifikan Kemampuannya Menekan Fatalitas Kecelakaan? Fitur Pengereman di Sepeda Motor Penting untuk Jaga Keselamatan Bikers, Apa Pendapat KNKT? Sidang Kasus Narkoba, Eksepsi Tio Pakusadewo Ditolak, Anaknya Sedih

Siap Sebelum Berkendara, Ini Cara Mudah Merawat Sistem Pengereman Sepeda Motor Ini Alasan Mengapa Sepeda Motor Harus di Jalur Lambat Asal Usul Nama Pantai Batu Hiu, Sebutan Warga yang Kini Jadi Destinasi Wajib di Pangandaran

Alasan Sepeda Motor Harus di Jalur Lambat Ala Honda Istimewa Selaku narasumber dan pelaku demonstrasi, Direktur Mobilitas Sepeda Motor Ikatan Motor Indonesia (IMI) Joel D. Mastana menjelaskan teknologi pengereman ABS seperti ini penting untuk terus didorong pada sepeda motor. Pihaknya mengusulkan agar ini jadi regulasi dan wajib dipasang oleh pabrikan sepeda motor untuk melindungi masyarakat luas yang sebagian besar mobilitasnya mengendarai sepeda motor.

Dia mengatakan, fitur ABS di sepeda motor terbukti membuat ban tidak selip saat pengereman mendadak dan menghindari risiko jatuh. "Kami berharap pemerintah dapat melihat teknologi ini sebagai sebuah kebutuhan preventif terhadap risiko kecelakaan pengendara roda dua di jalan raya," kataJoel. Hadir sebagai peserta diskusi FGD ini, ASEAN NCAP sebagai lembaga independen penyelenggara uji tabrak yang tergabung dalam Motorcycle ABS Partnership menegaskan, implementasi sistem ABS adalah solusi darurat demi menekan tingginya kasus kecelakaan sepeda motor di Indonesia.

"Fitur ABS mampu mencegah penguncian roda saat pengereman mendadak dan menjaga stabilitas sepeda motor sehingga potensi kecelakaan dapat dihindari." "Apalagi faktor human error masih menjadi penyebab utama setiap kasus kecelakaan di jalan raya,” kataTechnical Committee ASEAN NCAP, Adrianto Wiyono. Dengan demikian, pentingnya kolaborasi dari semua pemangku kepentingan di jalan raya untuk mendorong inovasi dan teknologi seperti fitur ABS yang mendukung keselamatan berkendara.

Selain itu, aksi ini juga perlu dilakukan sejalan dengan penguatan dari sisi regulasi dan peningkatan edukasi bagi seluruh pengendara. Ini akan menjadi kontribusi nyata dalam memenuhi mandat Decade of Action for Road Safety (Dekade Aksi Keselamatan Jalan) untuk menurunkan angka kecelakaan dan fatalitas hingga 50 persen pada tahun 2030.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *